Millenium Development Goals (MDG) Indonesia, kebidanan

 MDG’s DALAM KAITAN KESEHATAN REPRODUKSI
DAN KIA DI INDONESIA
Tugas Mata Kuliah Kesehatan Masyarakat
Dosen Pembimbing :
Eva Inayatul F, Amd.Keb.,SKM.,M.Kes

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDT-xcWXwe4a6W-Fw7ZUCOCvwWD7w_e-czetpnOWMZ5EDduK2DRyKgp4ewXlKO0v6hfVzXuwNjqN6ApYzeYkHVFzQ1SpxBhmTLq0A2YSAr4lFB6wcDSWoiLEpF5K0tjJiR_mkA4Pl9RGst/s1600/logo.png

Disusun oleh :
AULIA RAHMAH (BOB0161720) 
Kelas :TERATAI ( Semester Dua )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES MALANG
PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA KEBIDANAN
TAHUN AJARAN 2016/2017




KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatnyalah saya dapat mmenyelesaikan makalah ini dengan baik dan penuh kemudahan. Makalah ini di susun agar dapat mengetahui tentang MDG’s Dalam Kaitan Kesehatan Reproduksi dan KIA di Indonesia. Makalah ini disusun oleh penyusun dengan banyak rintangan baik itu yang datang dari penyusun maupun yang datang dari luar. Makalah ini membahas tentang “Definisi, Tujuan, Sasaran dan Indikator MDG’s “ dimana mahasiswa maupun masyarakat harus mengetahui sebelum menerapkannya. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen Ibu Eva Inayatul F, Amd.Keb.,SKM.,M.Kes mata kuliah Kesehatan Masyarakat telah membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara menyusun makalah ini. Dan teman-teman yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.Walaupun makalah ini memiliki kekurangan dan kelebihan. Penyusun mohon kritik dan sarannya. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.



Malang, 31 Maret 2017




                                                                                                             AULIA RAHMAH


Daftar Isi


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di penghujung abad lalu, Indonesia mengalami perubahan besar yaitu proses reformasi ekonomi dan demokratisasi dalam bidang politik. Tidak begitu lama kemudian, tepatnya pada tahun 2000, para pimpinan dunia bertemu di New York dan menandatangani “Deklarasi Milennium” yang berisi komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan. Komitmen tersebut diterjemahkan menjadi beberapa tujuan dan target yang dikenal sebagai Millennium Development Goals (MDGs). Pencapaian sasaran MDGs menjadi salah satu prioritas utama bangsa Indonesia. Pencapaian tujuan dan target tersebut bukanlah semata-mata tugas pemerintah tetapi merupakan tugas seluruh komponen bangsa. Sehingga pencapaian tujuan dan target MDGs harus menjadi pembahasan seluruh masyarakat.Untuk membantu terlaksananya proses ini, meskipun pendek dan hanya menyentuh secara singkat tujuan dan target MDGs. Di negara yang sangat luas dan beragam seperti Indonesia, meskipun data-data yang ditampilkan dalam makalah  ini dapat menggambarkan pencapaian di tingkat nasional, dan dalam beberapa aspek mencapai juga di tingkat provinsi, namun belum menggambarkan capaian pada tingkat kabupaten. Padahal, banyak dari keputusan terpenting yang dapat mempengaruhi kemajuan pencapaian MDGs diambil pada tingkat kabupaten. Karena itu, makalah  ini diharapkan bisa membantu memperkenalkan latar belakang MDGs kepada pembaca yang lebih luas. Untuk beberapa tujuan, diantaranya kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan perlindungan terhadap lingkungan, Indonesia bersama negara-negara lainnya, menetapkan target-target yang ambisius namun sangat mungkin untuk dicapai. Kebanyakan dari target tersebut mesti dicapai pada 2015. Oleh karena itu, tahun 2008 menjadi penting, karena tahun ini adalah pertengahan dari target 2015. Melihat pencapaian sampai saat ini, Indonesia sepatutnya berbangga hati. Kita telah secara nyata mengurangi kemiskinan, dan hampir semua anak laki-laki dan perempuan dapat masuk ke sekolah dasar. Tetapi masih menuntut kerja keras dalam bidang yang lain. Tingginya angka kematian ibu melahirkan dan belum cukup usaha kita untuk melindungi lingkungan merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara sungguh-sungguh. Walaupun kita sudah mencapai banyak kemajuan, tetapi masih diperlukan kerja keras untuk mencapai semua sasaran MDGs.

1.2 Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian MDGs ?
2.      Apa tujuan dari MDGs ?
3.      Apa tujuan pembangunan MDGs ?
4.      Apa indikator MDG’s ?

1.3 Tujuan Masalah

  1. Mengetahui apa pengertian MDGs.
  2. Mengetahui apa tujuan MDGs.
  3. Mengetahui tujuan pembangunan MDGs.
  4. Mengetahui indikator MDG’s.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Sejarah Millennium Development Goals (MDGs)


MDGs adalah singkatan dari Millenium Developmet Goals, dalam bahasa Indonesia bearti Tujuan Pembangunan Millenium. MDGs adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Millennium Development Goals (MDG) atau Tujuan Pembangunan Milenium adalah delapan tujuan yang ingin dicapai oleh berbagai bangsa pada tahun 2015 untuk menjawab tantangan-tantangan utama pembangunan di seluruh dunia. MDGs merupakan komitmen bersama negara-negara maju dan negara-negara berkembang dalam menangani permasalahan utama pembangunan.
MDGs dideklarasikan pada bulan september tahun 2000, disepakati oleh 189 negara dan ditandatangi oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat. Dalam KTT tersebut seluruh perwakilan negara yang hadir sepakat untuk menurunkan proporsi penduduk yang pendapatannya kurang dari US$ 1 per hari menjadi setengahnya antara periode 1990-2015.
Fokus utama dalam MDGs adalah pembangunan manusia, dengan meletakkan dasar pada konsensus dan kemitraan global untuk pembangunan. Diharapkan, negara-negara yang lebih kaya dapat mendukung negara-negara miskin dan berkembang dalam melaksanakan tugas pembangunan mereka.


2.2 8 Millennium Development Goals (Mdgs)/ Tujuan Pembagunan Millenium


Pada mulanya, MDGs merupakan sebuah review atas kebijakan pembangunan yang dikeluarkan oleh ECD-DAC ( Development Co-operation Directorate ) – (Development Assistance Committe ) pada pertengahan tahun 1990 dan kemudian dimasukkan kedalam Tujuan Pembangunan Internasional (Internasional Development Goals) tahun 2000 dan direvisi menjadi Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals) pada KTT Milenium. Setiap tujuan (goal) dari MDGs memiliki satu atau beberapa target dengan beberapa indikatornya. MDGs memiliki 8 tujuan, 18 target, dan 48 indikator yang telah disusun oleh konsensus para ahli dari sekertariat PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi (OECD) dan Bank Dunia.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa di dalam Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) terdapat 8 tujuan yang harus dicapai dengan 18 target dan 48 indikator yang diharapkan dapat membantu tercapainya tujuan dari MDGs. Adapun 18 target dan 48 indikator tersebut disusun oleh konsensus para ahli dari sekertariat PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi (OECD) dan Bank Dunia.
Tujuan (goal) dari Tujuan Pembangunan Internasional/ MDGs  (Internasional Development Goals) pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) tahun 2000 di New York, Amerika Serikat adalah sebagai berikut:
Tujuan 1 : Menanggulangi Kemiskinan Dan Kelaparan
Tujuan 2 : Mencapai Pendidikan Dasar Untuk Semua
Tujuan 3 : Mendorong Kesetaraan Gender Dan Pemberdayaan Perempuan
Tujuan 4 : Menurunkan Kematian Anak
Tujuan 5 : Meningkatkan Kesehatan Ibu
Tujuan 6 : Mengendalikan Hiv Dan Aids, Malaria Dan Penyakit Menular Lainnya
Tujuan 7 : Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup
Tujuan 8 : Mengembangkan Kemitraan Pembangunan Di Tingkat Global

2.3  Pengertian MDGs

Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000 tersebut.
Pemerintah Indonesia turut menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York tersebut dan menandatangani Deklarasi Milenium itu. Deklarasi berisi komitmen negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah tujuan pembangunan dalam Milenium ini (MDG), sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan.
Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan gender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.

 


2.4  Tujuan MDG’s

   Tujuan Millenium Development Goals
Millenium Development Goals mempunyai delapan tujuan pembangunan yaitu :
1)      Penghapusan kemiskinan;
Target 1 :    Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $1 perhari menjadi setengahnya antara tahun 1990-2015
TARGET 1A : MENURUNKAN SEPARUH PROPORSI PENDUDUK DENGAN TINGKAT PENDAPATAN USD 1 (PPP) PER HARI
Tingkat kemiskinan ekstrim, yaitu proporsi penduduk yang hidup dengan pendapatan per kapita kurang dari US $ 1 per hari, telah menurun dari 20,6% (1990) menjadi 5,9% (2008)
à telah tercapai
TARGET 1A:  Penurunan tingkat kemiskinan yang diukur terhadap garis kemiskinan nasional dari 13,3 % (2010) menjadi 7,5 % (2015) 

TARGET 1B : menciptakan kesempatan kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak untuk semua, termasuk perempuan dan kaum muda



TARGET 1C : menurunkan separuh proporsi penduduk yang menderita kelaparan

      Prevalensi balita kekurangan gizi telah berkurang hampir setengahnya, dari 31 % (1989) menjadi 18,4 % (2007)
      Target 2015 sebesar 15,5 % diperkirakan akan tercapai
                                               
Target 2 :    Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990 dan 2015
2)       Pencapaian pendidikan dasar untuk semua
      Angka Partisipasi Murni (APM) untuk pendidikan dasar mendekati 100%
      Tingkat melek huruf penduduk mencapai 99,47 % pada 2009.


Target 3 : Memastikan pada tahun 2015 semua anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan pendidikan dasar
3)      Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
         Target untuk kesetaraan gender diperkirakan akan tercapai.
      Rasio APM perempuan terhadap laki-laki di SD/MI/Paket A  dan SMP/MTs/Paket B berturut-turut sebesar 99,73  dan 101,99 pada  2009.
      Angka melek huruf kelompok perempuan usia 15-24 tahun telah mencapai 99,40%, sementara itu pada laki-laki mencapai 99,55%.
Perkembangan Indeks Paritas Gender (IPG) APM SD/MI/Paket A, SMP/MTs/Paket B, SM/MA/Paket C dan PT 1993-2009
Sumber : BPS, Susenas berbagai tahun
Target 4 :    Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015
4)      Penurunan angka kematian anak:
Angka kematian anak balita menurun dari 97 (1991) menjadi 44 per 1.000 kelahiran (2007) dan diperkirakan target 32 per 1.000 kelahiran pada tahun 2015 dapat tercapai.
Kecenderungan dan proyeksi  Angka Kematian ,Anak Balita, Bayi dan Neonatal  (1991-2015)
Sumber: SDKI berbagai tahun

Target 5 :    Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya antara th 1990 dan 2015
5)      Meningkatkan kesehatan ibu;
TARGET 5A: menurunkan angka kematian ibu hingga tiga-perempat dalam kurun waktu 1990-2015
Angka Kematian Ibu (per 100.000 kelahiran hidup)


TARGET 5B: mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua pada tahun 2015
Target 6 :    Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya
TARGET 6A: mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru hiv/aids hingga tahun 2015
TARGET 6B: mewujudkan akses terhadap pengobatan hiv/aids bagi semua yang membutuhkan sampai dengan tahun 2010

TARGET 6C: mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria dan penyakit utama lainnya
Angka kejadian Malaria (API) di Indonesia,  1990-2009)
TBC
      Terjadi peningkatan penemuan kasus tuberkulosis dari 20,0 % (2000)  menjadi 73,1 % (2009) dari target 70,0 % (2015)
      Penurunan prevalensi tuberkulosis dari 443 kasus pada 1990 menjadi 244 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2009
Angka Penemuan Kasus  (CDR) dan Angka Keberhasilan Pengobatan (SR) Nasional untuk TB (%), 1995-2009
Sumber : Kemenkes, Dit. PPM Ditjen P2PL ,2009
Target 7 :    Memastikan kelestarian lingkungan hidup
TARGET 7A: memadukan prinsip-prinsip pembangunan yang berkesinambungan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumberdaya lingkungan yang hilang
TARGET 7B: Mengurangi laju kehilangan keragaman hayati, dan mencapai pengurangan yang signifikan pada 2010
      Sumber daya alam dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya selama ini lebih diarahkan untuk menunjang mata pencaharian dan pertumbuhan ekonomi.
      Jasa ekosistem dan manfaat keanekaragaman hayati terutama dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim masih belum mendapatkan perhatian yang signifikan.
Jumlah Jenis Ikan Tawar dan Jenis Ikan Laut Yang Dilindungi dan Terancam Punah Per Tahun
Sumber : Kemen Kelautan dan Perikanan
      Perlindungan spesies akuatik menunjukkan tren peningkatan setiap tahunnya.
TARGET 7C: Menurunkan hingga separuhnya proporsi penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi layak pada 2015
Sumber: BPS, Susenas 1993-2009
TARGET 7D: mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh (minimal 100 juta) pada tahun 2020
Proporsi Rumah Tangga Kumuh Perkotaan, 1993 dan 2009


      Estimasi kondisi permukiman kumuh di Indonesia didekati dengan menghitung proporsi rumah tangga kumuh perkotaan.
      Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan telah menurun 8,63% sejak 1993  à perlu perhatian khusus untuk mencapai target 6% pada 2020
TUJUAN 8 : MEMBANGUN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK PEMBANGUNAN
      Penurunan rasio utang luar negeri terhadap GDP dari 24,59 % (1996) menjadi 10,89 % (2009).
      Rasio utang juga telah dikurangi dari 51 % (1996)  menjadi 22 % (2009)

2.5 Indikator MDG’s

Target 1A: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk dengan tingkat pendapatan kurang dari US$ 1 (PPP) per hari dalam kurun waktu 1990-2015
  1. Menurunkan proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan (tingkat kemiskinan) pada tahun 2015, serta mengurangi kesenjangan dalam tingkat kemiskinan antar provinsi dan kabupaten
  2. Mempertahankan tingkat pertumbuhan yang tinggi dalam rangka memperluas kesempatan kerja, termasuk kesempatan kerja bagi masyarakat miskin
  3. memperkuat ketersediaan pendidikan dan pelayanan kesehatan serta perlindungan sosial bagi masyarakat miskin
  4. Mengkoordinasikan program-program bagi pengurangan kemiskinan secara efektif dan memanfaatkan sumber daya fiskal efektif untuk mendorong pertumbuhan inklusif, memberdayakan kaum miskin dan meningkatkan pelayanan publik
Target 1B: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk dengan tingkat pendapatan kurang dari US$ 1 (PPP) per hari dalam kurun waktu 1990-2015
  1. Memperluas kesempatan kerja formal seluas-luasnya
  2. Mempersempit kesenjangan upah antarpekerja pada tingkatan yang sama
  3. Memperlancar perpindahan pekerja dari pekerjaan yang produktivitasnya rendah ke pekerjaan yang produktivitasnya lebih tinggi
Target 1C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015
  1. Masih rendahnya status gizi balita dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan sosial-budaya masyarakat
  2. Masih terbatasnya akses yang memadai bagi masyarakat miskin dan berpendidikan rendah dalam memperoleh pangan yang bergizi dan aman
  3. Belum seimbangnya pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia
  4. Masih rendahnya kualitas asupan pangan sebagaimana yang diukur oleh Skor Pola Pangan Harapan (PPH)
  5. Masih rendahnya pemberian ASI eksklusif
  6. Masih rendahnya peranan masyarakat dalam menanggulangi kekurangan gizi
  7. Lemahnya kelembagaan yang bertanggung-jawab dalam upaya perbaikan pangan dan gizi
Target 2A: Menjamin pada 2015 semua anak, laki-laki maupun perempuan dimanapun dapat menyelesaikan pendidikan dasar
  1. Meningkatkan pemerataan akses secara adil bagi semua anak, baik anak laki-laki maupun perempuan, untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas di semua daerah
  2. Menjangkau anak-anak yang tidak terjangkau, yang terutama yang disebabkan oleh kemiskinan
  3. Meningkatkan kesiapan anak bersekolah (school readiness) untuk menurunkan angka putus sekolah dan meningkatkan angka kelulusan pada jenjang pendidikan dasar
  4. Meningkatkan kualitas pendidikan nonformal bagi anak-anak putus sekolah dan yang tidak mampu mengenyam pendidikan formal di sekolah
  5. Menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai termasuk buku dan peralatan belajar-mengajar
  6. Meningkatkan tenaga guru yang memenuhi standar kualifikasi akademik di seluruh wilayah untuk meningkatkan kualitas pendidikan
  7. Melakukan pengayaan kurikulum pendidikan dasar untuk meningkatkan kualitas siswa yang meliputi soft-skill dan kecerdasan jamak (multiple intellegences).
  8. Mengembangkan sistem pembiayaan dan mekanisme transfer yang lebih baik untuk meningkatkan efisiensi, akuntabilitas, dan keadilan dalam pembiayaan serta untuk menjamin pemerataan akses terhadap pendidikan dasar berkualitas
  9. Meningkatkan akuntabiltas dan efisiensi manajemen pendidikan dalam era desentralisasi
Target 3A: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005, dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015
  1. Meningkatkan kesetaraan gender di semua jenjang pendidikan di semua provinsi
  2. Melaksanakan penegakan hukum untuk memastikan perlakuan tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan untuk memperoleh pekerjaan dan dalam pekerjaannya merupakan tantangan utama yang dihadapi di bidang ketenagakerjaan
  3. Memberikan perlindungan bagi pekerja perempuan di tempat kerjanya untuk memastikan hak-haknya terpenuhi
  4. Meningkatkan partisipasi perempuan pada lembaga-lembaga legislatif dan lembaga-lembaga politik
Target 4A: Menurunkan Angka Kematian Balita (AKBA) hingga dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015
  1. Tantangan utama adalah mempertahankan dan memperluas upaya cakupan imunisasi, deteksi dini dan perawatan segera bagi balita sakit atau Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), perbaikan gizi, dan keterlibatan keluarga, peran serta masyarakat, pengendalian faktor risiko lingkungan (akses terhadap air bersih dan sanitasi)
  2. Disamping itu, terdapat beberapa tantangan program sebagai berikut:
  1. Pengawasan program, sinkronisasi pada intervensi efektif yang berbasis fakta menuju universal coverage, perencanaan sektoral terintegrasi, serta kecukupan anggaran;
  2. Perbaikan tata kelola, pelatihan staf, pendanaan dan promosi MTBS di tingkat akar rumput;
  3. Penekanan pada intervensi gizi yang ’cost-effective’, layak, dan dapat diterapkan secara luas - yang dilaksanakan oleh penyedia layanan yang terlatih dengan dukungan sumber daya yang kuat; dan
  4. Merancang program informasi dan perubahan perilaku yang memanfaatkan peran keluarga dan melibatkannya dalam  meningkatkan kesejahteraan anak.
3. Terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan
Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu hingga tiga-perempat dalam kurun waktu 1990 – 2015
Target 5B: Mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua pada tahun 2015
  1. Terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas, terutama bagi penduduk miskin di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan (DTPK)
  2. Terbatasnya ketersediaan tenaga kesehatan baik dari segi jumlah, kualitas dan persebarannya, terutama bidan
  3. Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan ibu
  4. Masih rendahnya status gizi dan kesehatan ibu hamil
  5. Masih rendahnya angka pemakaian kontrasepsi dan tingginya unmet need masih menjadi tantangan utama
  6. Pengukuran AKI masih belum tepat, karena sistem pencatatan penyebab kematian ibu masih belum kuat
Target 6A: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015
Target 6B: Mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV/AIDS bagi semua yang membutuhkan sampai dengan tahun 2010
  1. Terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan dalam pencegahan, perawatan, dan pengobatan HIV/AIDS
  2. Terbatasnya alokasi anggaran dan ketersediaan dana yang berkesinambungan dalam pengendalian HIV/AIDS
  3. Masih lemahnya koordinasi lintas sektor dan sistem monitoring dan evaluasi
  4. Masih adanya hambatan terkait stigmatisasi dan diskriminasi ODHA di masyarakat serta adanya ketidaksetaraan gender dan pelanggaran Hak Asasi Manusia
  5. Masih terbatasnya fasilitas dan tenaga kesehatan baik dalam hal kualitas maupun kapasitas, serta ketersediaan obat anti retroviral baik dalam hal kuantitas maupun kualitas
Target 6C: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru Malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015
Pengendalian Malaria
  1. Belum optimalnya upaya pencegahan penularan malaria
  2. Terbatasnya kemampuan manajemen kasus malaria terutama di daerah
  3. Belum optimalnya pelaksanaan monitoring dan evaluasi
  4. Terbatasnya dukungan sumber dana dalam Gerakan Berantas Malaria (Gebrak Malaria)
Pengendalian Tuberkulosis
  1. Masih rendahnya kesadaran dan perlunya perubahan perilaku di keluarga dan masyarakat yang mempengaruhi risiko penyebaran infeksitingkat utilisasi serta efektifitas strategi nasional
  2. Penerapan program TB terkendala sejumlah tantangan, antara lain: tingginya penemuan kasus belum diimbangi dengan ketersediaan pelayanan pengobatan yang memadai dan tingginga multi-drug resistant TB (MDR-TB)
  3. Masih diperlukannya perhatian khusus dan penguatan kebijakan dalam penyusunan dan penerapan strategi di daerah yang berbasis lokal untuk memastikan keberhasilan program
  4. Belum optimalnya pengembangan basis informasi untuk penyusunan kebijakan berbasis fakta
  5. Masih terbatasnya sumber pendanaan untuk menanggulangi TB di Indonesia
Target 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan yang berkesinambungan dalam kebijakan-kebijakan dan program-program nasional serta mengurangi kerugian pada sumberdaya lingkungan
  1. Berkurangnya luas tutupan hutan di Indonesia sejak tahun 1990, antara lain: kebakaran hutan, pembalakan liar, konversi hutan, dan praktik pengelolaan hutan yang tidak lestari
  2. Adanya kebutuhan untuk meningkatkan pengelolaan wilayah darat dan laut yang dilindungi guna menjaga kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia
  3. Penggunaan sumber-sumber energi alternatif yang dapat menghasilkan karbon dioksida dalam kadar rendah atau tidak menimbulkan emisi karbon dioksida merupakan salah satu cara untuk menanggulangi dampak perubahan iklim
  4. Perlunya konservasi jangka panjang dan pengelolaan serta pemanfaatan sumber daya hayati laut dan habitat pesisir secara berkelanjutan melalui penerapan pendekatan pencegahan dan ekosistem yang tepa
  5. Meskipun Indonesia telah berhasil menghapuskan CFC, penggunaan HCFC sebagai pengganti sementara juga berdampak negatif pada lapisan ozon, walaupun ODP-nya jauh lebih kecil
  6. Diperlukan aksi nasional, baik untuk mitigasi perubahan iklim global maupun melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memberdayakan masyarakat Indonesia agar dapat beradaptasi dengan dampak negatif perubahan iklim
Target 7B: Mengurangi laju kehilangan keragaman hayati, dan mencapai pengurangan yang signifikan pada 2010
  1. Keanekaragaman hayati Indonesia telah terancam karena pemanfaatan sumber daya alam dengan cara yang tidak lestari
  2. Penyusutan keanekaragaman genetik, khususnya spesies satwa dan tumbuhan liar, tidak terdokumentasi dengan baik
  3. Kebutuhan dalam pengelolaan spesies akuatik yang terancam punah menjadi perhatian utama bagi Konservasi jenis ikan di Indonesia, salah satunya adalah bagaimana melakukan perencanaan, penyusunan dan implementasi kebijakan-kebijakan dalam upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan darat dan laut
Target 7C: Menurunkan hingga separuhnya proporsi penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi dasar pada 2015
  1. Belum lengkap dan terbaharukannya perangkat peraturan yang mendukung penyediaan air minum dan sanitasi yang layak
  2. Belum adanya kebijakan komprehensif lintas sektor dalam penyediaan air minum dan anitasi yang layak
  3. Menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya air minum
  4. Belum diimbanginya pertumbuhan populasi, terutama di perkotaan dengan pembangunan infrastruktur air minum dan sanitasi yang layak
  5. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan praktek perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
  6. Masih terbatasnya penyedia air minum yang layak baik oleh perusahaan daerah air minum (PDAM) dan non-PDAM yang sehat (kredibel dan profesional), terutama di daerah perkotaan
  7. Masih terbatasnya kapasitas pemerintah daerah untuk menangani sektor air minum dan sanitasi,
  8. Investasi sistem penyediaan air minum dan sanitasi yang layak masih kurang memadai, baik dari pemerintah maupun swasta
Target 7D:  Mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh (minimal 100 juta) pada tahun 2020
  1. Terbatasnya akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap lahan untuk pembangunan perumahan
  2. Terbatasnya akses masyarakat terhadap pembiayaan perumahan
  3. Terbatasnya kemampuan sektor pemerintah dan swasta dalam membangun rumah
  4. Terbatasnya penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman
  5. Belum optimalnya program-program penanganan permukiman kumuh yang telah dilaksanakan
Target 8A: Mengembangkan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi, dan tidak diskriminatif
  1. Kontraksi perdagangan dunia pada tahun 2009 oleh WTO dilaporkan mencapai -12,2 persen
  2. Menyepakati perjanjian yang akan memberikan landasan kuat bagi pemulihan ekonomi global dan pertumbuhan berkelanjutan
  3. Berdasarkan Logistics Performance Index (Bank Dunia), Indonesia menduduki peringkat ke-75 secara global terkait indikator kinerja logistik untuk perdagangan internasional, International LPI
  4. Masih terkendalanya fungsi intermediasi perbankan
  5. Besarnya selisih (spread) antara suku bunga kredit dan simpanan diperkirakan menjadi salah satu penyebab rendahnya penyaluran kredit investasi pada industri perbankan

  


BAB III

PEMBAHASAN

3.1 TARGET MDG YANG TELAH DICAPAI   

TUJUAN  1  (TARGET 1A) : MENURUNKAN SEPARUH PROPORSI PENDUDUK DENGAN PENDAPATAN < USD 1  ANTARA TAHUN 1990 DAN 2015 
Tingkat kemiskinan ekstrim, yaitu proporsi penduduk yang hidup dengan pendapatan per kapita kurang dari USD 1 per hari, telah menurun dari 20,6% (1990) menjadi 5,9 % (2008).
TUJUAN 3 :  MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
      Target untuk kesetaraan gender dalam semua jenis dan pendidikan diperkirakan akan tercapai
      Rasio APM perempuan terhadap laki-laki di SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B berturut-turut sebesar 99,73% dan 101,99% (2009)
      Rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun telah mencapai 99,85%
TUJUAN 6  (TARGET 6C) : MENGENDALIKAN  PENYAKIT TB
      Terjadi peningkatan penemuan kasus tuberkulosis dari 20,0% (2000)  menjadi 73,1% (2009) dari target 70,0% (2015)
      Penurunan prevalensi tuberkulosis dari 443 kasus (1990) menjadi 244 kasus per 100.000 penduduk (2009)

3.2 TARGET MDG YANG TELAH MENUNJUKKAN KEMAJUAN SIGNIFIKAN  

TUJUAN  1 (TARGET 1C): MENURUNKAN SEPARUH PROPORSI PENDUDUK YANG MENDERITA KELAPARAN
      Prevalensi balita kekurangan gizi telah berkurang hampir setengahnya, dari 31% (1989) menjadi 18,4% (2007).
      Target 2015 sebesar 15,5% diperkirakan akan tercapai
TUJUAN 2 : MENCAPAI PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUA
      Angka partisipasi murni untuk pendidikan dasar mendekati 100%
      Tingkat melek huruf penduduk mencapai 99,47 % (2009).
TUJUAN 4 : MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
      Rasio APM perempuan terhadap laki-laki di SM/MA/Paket C dan pendidikan tinggi mencapai 96,16 dan 102,95 (2009)
      Target 2015 sebesar 100% diperkirakan akan tercapai.
TUJUAN 4 : MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK
      Angka kematian balita menurun dari 97 (1991) menjadi 44 per 1.000 kelahiran (2007)
      Diperkirakan target 32 per 1.000 kelahiran pada tahun 2015 dapat tercapai
TUJUAN 8 : MENGEMBANGKAN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK PEMBANGUNAN
      Indonesia telah berhasil mengembangkan perdagangan serta sistem keuangan yang terbuka, berdasarkan aturan, bisa diprediksi dan non-diskriminatif - terbukti dengan adanya kecenderungan positif dalam indikator yang berhubungan dengan perdagangan dan sistem perbankan nasional
      Kemajuan signifikan telah dicapai dalam mengurangi rasio utang LN terhadap PDB dari 24,6% (1996) menjadi 10,9% (2009)
      Rasio utang pemerintah (Debt Service Ratio) telah dikurangi dari 51% (1996) menjadi 22% (2009)   

3.3 TARGET MDG YANG MEMERLUKAN KERJA KERAS

TUJUAN  1 : MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN
      Indonesia telah menaikkan ukuran target pengurangan kemiskinan dan akan memberikan perhatian khusus untuk mengurangi tingkat kemiskinan yang diukur terhadap garis kemiskinan nasional dari 13,33% (2010) menjadi 8-10% pada 2014.
TUJUAN  5 (TARGET 5A) : MENINGKATKAN KESEHATAN IBU
      Angka kematian ibu menurun dari 390 (1991) menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup (2007)
      Diperlukan upaya keras untuk mencapai target pada tahun 2015 sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup.
TUJUAN 6 (TARGET 6A) : MENGENDALIKAN HIV DAN AIDS
      Jumlah penderita HIV / AIDS meningkat, khususnya di antara kelompok risiko tinggi pengguna narkoba suntik dan pekerja seks.
      Tingkat kenaikan juga sangat tinggi di beberapa daerah di mana kesadaran tentang penyakit ini rendah.  
TUJUAN  7       : MENJAMIN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP
      Indonesia memiliki tingkat emisi gas rumah kaca yang tinggi, namun tetap berkomitmen untuk meningkatkan tutupan hutan, menghilangkan pembalakan liar dan mengimplementasikan kerangka kerja kebijakan untuk mengurangi emisi karbon dioksida paling sedikit 26 % selama 20 tahun ke depan.
      Saat ini hanya  47,73 % rumah tangga yang memiliki akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan 51,19 % yang memiliki akses sanitasi yang layak. 
      Diperlukan perhatian khusus, untuk mencapai target MDG pada tahun 2015.

BAB IV

PENUTUP


4.1    KESIMPULAN

1.      Beberapa indikator MDGs secara nasional telah tercapai. Kinerja ini perlu terus dipertahankan.
2.      Sebagian besar target MDGs secara nasional diperkirakan akan tercapai (on track)Untuk mencapai target 2015, perlu peningkatan kinerja.
3.      Penurunan angka kematian ibu, pengendalian penyakit HIV dan AIDS, dan peningkatan tutupan lahan memerlukan upaya lebih keras untuk mencapai target 2015.
4.      Disparitas pencapaian MDGs antar daerah masih tinggi. Harus disusun strategi khusus untuk mengurangi disparitas.
5.      Diperlukan langkah-langkah strategis yang menjamin sinergi antar kementerian/lembaga serta sinergi antara pusat dan daerah.
6.      Kini karena banyak goals yang belum tercapai sekarang di bentuknya SDG’s

4.2    SARAN

Sebagai saran dari tujuan pembangunan melinium adalah dengan bekerjasama yang baik, semua tujuan baik dapat lebih cepat terwujud dan terwujudnya tujuan baik untuk seluruh umat manusia adalah jaminan kelangsungan hidup layak dan kesejahteraan. Dalam pendidikan ada upaya peningkatan taraf hidup manusia melalui penyadaran manusia akan kebutuhan hidupnya dan pengetahuan tentang berbagai cara pemenuhan kebutuhan hidup sendiri.

Daftar Pustaka

5.      Situs Bappenas Laporan Millenium Development Goals (MDG) Indonesia
6.      Situs PBB untuk Sasaran Pembangunan Milenium
7.      Badan PBB untuk Program Pembangunan: Informasi Dasar Sasaran Pembangunan Milenium
8.      Indonesia Progress Report on the Millenium Development Goals, 2004










Komentar